Literasi Kesehatan: Pentingnya Pengetahuan Keluarga dalam Mendeteksi DBD pada Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak seringkali menjadi tantangan besar karena gejala awalnya yang mirip dengan penyakit demam virus lainnya. Kesalahan dalam mendeteksi atau keterlambatan membawa anak ke fasilitas kesehatan dapat berakibat fatal, mengingat fase kritis DBD dapat terjadi sangat cepat. Oleh karena itu, peningkatan Literasi Kesehatan di tingkat keluarga menjadi benteng pertahanan pertama dan paling penting dalam upaya penyelamatan. Kemampuan orang tua untuk Memahami Gejala dan mengenali tanda-tanda bahaya dini adalah kunci untuk memastikan penanganan yang tepat waktu dan optimal. Tanpa Literasi Kesehatan yang memadai, risiko komplikasi serius, seperti Sindrom Syok Dengue, akan meningkat signifikan. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dikumpulkan sepanjang tahun 2024, mayoritas kasus kematian anak akibat DBD disebabkan oleh keterlambatan rujukan ke rumah sakit setelah melewati fase kritis.

Salah satu fokus utama dari Literasi Kesehatan adalah edukasi mengenai tiga fase klinis DBD: Fase Demam, Fase Kritis, dan Fase Pemulihan. Orang tua harus menyadari bahwa demam tinggi mendadak selama 2-7 hari adalah tanda awal, dan bahwa fase yang paling berbahaya adalah ketika demam mulai turun (Fase Kritis, biasanya hari ke-3 hingga ke-7). Di momen penurunan demam inilah kebocoran plasma dapat terjadi. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh Peran Orang Tua termasuk nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan (gusi atau mimisan), dan kondisi lemas ekstrem atau anak menjadi sangat rewel. Di Puskesmas Sejahtera, setiap pasien yang didiagnosis demam tinggi diberikan leaflet khusus yang mencantumkan warning signs ini dengan jelas, serta nomor kontak darurat (misalnya kontak hotline P2P di nomor 119) yang berlaku 24 jam.

Untuk meningkatkan Literasi Kesehatan ini, sekolah dan fasilitas kesehatan perlu aktif berkolaborasi. Program Peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di lingkungan rumah tidak hanya fokus pada pemberantasan nyamuk, tetapi juga harus disertai penyuluhan mengenai penanganan DBD. Sebagai contoh, di Kelurahan Indah Makmur, setiap hari Sabtu pertama di setiap bulan, kader kesehatan mengadakan sesi sharing bersama ibu-ibu PKK, di mana mereka mengajarkan cara memantau frekuensi buang air kecil anak, salah satu indikator penting dalam pemantauan status cairan saat DBD. Pengetahuan praktis semacam ini memungkinkan orang tua melakukan triage awal di rumah.

Dengan meningkatnya Literasi Kesehatan, keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat untuk mencari pertolongan medis segera, terutama ketika tanda-tanda bahaya pada anak muncul. Tindakan cepat ini mengurangi beban kerja petugas kesehatan dan meningkatkan efektivitas perawatan, mengubah prognosis penyakit dari yang berpotensi fatal menjadi kasus yang dapat disembuhkan dengan pemantauan dan tatalaksana cairan yang benar.